Sunan Giri memiliki silsilah garis keturunan ayahnya yang masih merupakan keturunan nabi Muhammad. Sumber : suhupendidikan.com

Dari garis keturunan di atas, jarak antara Nabi dan Sunan Giri adalah sekitar 16 generasi. Jika dihitung dari tahun antara 671 AD dan 1440 AD, ada interval sekitar 770 tahun.

Dengarkan dan baca: Sunan Gunung Jati

Perjuangan Sunan Giri untuk menyebarkan Islam

  1. Sunan Giri Belajar di Dentel Ampel

Ketika Joko Samudro berusia 7 tahun, Nyai Ageng Pinatih meninggalkannya di sekolah asrama Sunan Ampel di kota Surabaya.

Dapat dipahami bahwa ia dapat belajar tentang ajaran Islam. Selama bertahun-tahun ia belajar Islam di Sunan Ampel Islamic College.

Bagi Sunan Ampel, Joko Samudro adalah siswa yang cerdas. Dia bahkan diberi gelar Maulana Ainul Yaqin oleh Sunan Ampel.

Suatu hari, ketika Sunan Ampel menyelesaikan doa Tahajudnya, ia melihat cahaya yang sangat terang dari salah seorang muridnya. Karena dia tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, dia mengikatkan sarung siswa.

Keesokan harinya, Sunan Ampel bertanya kepada semua muridnya yang memiliki dasi kecil ke sarungnya. Joko Samudro kemudian maju dan menunjukkan ikatan di sarungnya.

Mengamati ikatan sarungnya, Sunan tahu bahwa Joko Samudro bukan anak yang ceroboh. Maka Joko Samudro diundang oleh Sunan Ampel untuk menemui ibu angkatnya di Gresik.

Setiba di Gresik, Sunan Ampel bertanya siapa sebenarnya ibunya, Joko Samudro, Nyai Ageng Pinateh.

Akhirnya, ibunya menjelaskan bahwa segala sesuatu mulai ditemukan oleh seorang anak yang mengambang di Selat Bali dan bahwa kapal dagangnya berlabuh di Selat Bali.

Dari cerita itu, Sunan Ampel yakin bahwa Joko Samudro adalah keponakannya. Dia adalah putra pamannya, Sheikh Maulana Ishaq, penduduk asli Pasai.

Karena dulu pamannya memberitahunya: “Jika nanti ada anak yang mengambang di Selat Bali, dia adalah anakku, jika dia laki-laki maka beri dia nama Raden Paku, sehingga aku bisa menjadi Islam Paku di Jawa”.

Sunan Giri

Akhirnya nama Joko Samudro diubah menjadi Raden Paku dan kemudian dipanggil Raden Paku.

  1. Belajar Sunan Giri di Pasai

Setelah 3 tahun belajar Islam di Ampel, ia akhirnya menerima tugas dari gurunya untuk belajar di Pasai.

Putra Raden Paku dan Sunan Ampel, Raden Maulana Makdsum Ibrahim (yang kemudian menjadi Sunan Bonang), dikirim untuk belajar Islam lebih dalam di Mekah.

Tetapi sebelum dia pergi, Sunan Ampel mengirimnya untuk menemui ayahnya di Pasai Aceh. Ini karena Sunan Ampel ingin menyatukan kembali anak-anak dengan ayah yang sudah lama berpisah.

Raden Paku dan Raden Maulana Makhdum Ibrahim belajar selama 3 tahun di Pasai. Setelah dianggap lulusan, mereka akan melanjutkan kepergian mereka ke Mekah.

Namun Syekh Maulana Ishaq mengatakan kepada mereka untuk kembali ke Jawa karena keterampilan dan energi mereka diperlukan untuk menyebarkan Islam dalam pembangunan Jawa.

  1. Sunan Giri yang mendirikan perguruan tinggi Islam

Ketika Raden Paku ingin kembali ke Jawa, ia diberi nama Maulana Ainul Yaqin oleh ayahnya. Jadi Raden Paku menerima segenggam tanah dari ayahnya untuk membangun pesantren.

Kemudian ayahnya memberinya segenggam tanah yang kemudian disuruh di Raden Paku untuk menemukan jenis tanah yang sama di tempat untuk menemukan sebuah perguruan tinggi.

Bumi harus sama dengan bau dan jenis yang diberikan oleh ayahnya. Raden Paku melakukan banyak hal untuk menemukan tanah itu.

Akibatnya ia menemukannya dan membangun sekolah asrama di desa Sidomukti dekat kota Gresik, yang terletak di dataran tinggi. Itu sebabnya ia diberi nama Giri dan akhirnya dikenal sebagai Sunan Giri.

Selama 3 bulan, pesen Raden Paku dikenal luas oleh masyarakat. Bahkan, banyak anak belajar di sana. Ini telah sangat memudahkan penyebaran Islam.

Pada saat itu, Raden Paku memiliki pengaruh besar di ranah Jawa dan juga di luar Jawa. Dia bahkan mendirikan kerajaan yang disebut Giri Kedaton.